google-site-verification=4PyO_QSL777Du1Gc1Iq7U5VBurLSMNyd2lW4AvGTCdo Gunung Merapi dan Mbah Petruk antara Mitos dan Kepercayaan <a href='#' style='display:scroll;position:fixed;bottom:5px;right:5px;' title='Back to Top'><strong>Kembali ke Atas</strong></a>
Home » » Gunung Merapi dan Mbah Petruk antara Mitos dan Kepercayaan

Gunung Merapi dan Mbah Petruk antara Mitos dan Kepercayaan



Indonesia Menjerit, barangkali ungkapan tersebut lebih tepat untuk menggambarkan situasi dan keadaan sekarang yang sedang menimpa bangsa Indonesia akhir-akhir ini. Betapa tidak, sepanjang tahun 2010, bencana terus dan terus datang silih berganti. Kecelakaan di udara, di laut, bahkan yang lebih parah adalah bencana di darat (bencana alam) yang sudah menelan banyak korban. Mulai dari Banjir bandang di Wasior, tsunami di Mentawai, yang kemudina disusul dengan letusan dahsyat gunung merapi yang juga sempat memakan korban sang Juru kuncinya " Mbah Maridjan". yang lebih mengerikan lagi, akhir - akhir ini telah pula tercium gelagat bencana baru dari Anak Gunung kelud, Gunung Krakatau di Selat Sunda, yang tidak henti-hentinya menyemburkan asap panas yang membumbung ke angkasa.

Berbagai pendapat kemudian bermunculan, seputar bencana yang terjadi di Indonesia sekarang-sekarang ini. bahkan yang tidak kalah menarik adalah beberapa pendapat yang dihubung-hubungkan dengan kepercayaan masyarakat sekitar gunung berapi, yaitu munculnya Mbah petruk (awan tebal berbentuk kepala "Petruk" yaitu: salah satu tokoh punakawan dalam cerita pewayangan) di atas puncak gunung berapi. Menurut kepercayaan masyarakat yang ada di sekitar gunung Merapi, bahwa; Jika kepala petruk sudah muncul di puncak merapi itu tandanya, Gunung Merapi akan memuntahkan ledakan yang lebih dahsyat dan hebat lagi. Letusan pamungkas sebagai tanda atas kemarahan mbah petruk terhadap kesalahan anak cucu nya yang ada disekitar gunung Merapi.

Sebagaimana sedang ramai di bicarakan, bahwa sekarang ini kepala petruk sudah muncul di atas puncak gunung Merapi, dimana Mbah petruk yang di yakini sebagai penunggu puncak Merapi keluar dengan kepala menghadap ke arah bagian Jogjakarta. Ini artinya bahwa; ledakan dahsyat akan menghantam Jogja dan sekitarnya.
Gunung Merapi selalu dikait-kaitkan dengan sejumlah mitos. Ada mitos tentang Kiai Sapujagad yang dipercaya bersemayam di Merapi, mitos Mbah Petruk yang dipercaya sebagai sesepuh penunggu Merapi, dan mitos-mitos lainnya.

Gunung Merapi pun dipercaya sebagai keraton makhluk halus. Karena itu ada sejumlah tempat di Gunung Merapi yang dikenal angker atau sakral karena ditunggui oleh makhluk halus. Menurut sosiolog Prof Heru Nugroho, mitos-mitos itu ada yang muncul karena pengetahuan tradisional masyarakat, namun ada juga yang sengaja dimunculkan dan dipelihara demi keberlangsungan kekuasaan sang penguasa.
Ada pengetahuan tradisional penduduk lokal yang tinggal di sekitar Merapi. Mereka memercayai bahwa Merapi memiliki nyawa sebagai penunggu sehingga untuk menghindari kemarahan penunggunya (warga) perlu mengadakan ritual dan juga memberikan sesaji. Nah, yang bisa berhubungan dan mengetahui kehendak penunggu hanya orang-orang tertentu, sedang rakyat hanya percaya dan mengikuti kehendak elite-elite spiritual.

Karena itu, para elite spiritual lokal kemudian memiliki previlege (hak istimewa) dalam komunitasnya. Mitologi Merapi juga direproduksi Keraton Mataram, sengaja dipelihara demi tegaknya kekuasaan kerajaan. Dari sini ditegaskan, penunggu Merapi adalah Kiai Sapu Jagad dan penguasa Laut Selatan adalah Kanjeng Ratu Kidul.

Demi keberlangsungan kekuasaan Mataram, maka raja Mataram harus berkolaborasi dengan dengan para penguasa lainnya. Yakni dengan menjadikan Kiai Sapu Jagad sebagai mitra politik dan Kanjeng Ratu Kidul sebagai permaisuri. Ada ritual yang kemudian dilakukan masyarakat baik di Merapi maupun di Laut Selatan agar para penguasa tidak marah.

Selain mengetahui Merapi dari mitos, ada pula pengetahuan modern yang direproduksi oleh orang-orang universitas dan digunakan pemerintah untuk menjadi landasan kebijakannya. Jadi dasarnya adalah science, yang dalam hal ini adalah ilmu tentang kegunungapian. Science ini dapat mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi perilaku Merapi.

Ini berkaitan dengan sistem kepemimpinan tradisional di Yogyakarta. Buktinya setelah Mbah Maridjan tidak ada lantas ada kabar telah ditunjuk orang baru untuk menjadi juru kunci Merapi. Itu melestarikan mitologi Jawa yang berkaitan dengan Keraton, Gunung Merapi dan Laut Selatan.

Lalu karena dilestarikan, maka jadi kepercayaan beberapa orang, dan secara tradisional membuat sebagian dari mereka merasa sangat hormat kepada Keraton. Bahkan mereka masih melakukan ritual-ritual sebagai bagian dari kepercayaan itu.

Ini menjadi basis kekuasaan, legitimasi melalui klenik dan mitos yang dibangun. Misalnya mitos bahwa Merapi diberi sesaji setiap tahun, juga sesaji di Laut Selatan. Ini semua agar selaras dan mendukung kekuasaan kerajaan.

Mbah Maridjan dan beberapa warga sekitarnya enggan meninggalkan rumahnya karena percaya Merapi tidak akan apa-apa. Ini karena kepercayaan mistis juga dan juga karena keterikatan mereka dengan ekonomi sehingga membuat mereka sulit meninggalkan rumahnya. Karena mereka punya tanah, punya ternak, dan sebagainya.

Seharusnya bukan alam yang memahami kita, tapi kita yang memahami alam. Saatnya kita hidup berdemokrasi dengan alam. Karena itu memang sebaiknya kita menjaga jarak, dengan tinggal tidak terlalu dekat dengan puncak gunung. Padahal gunung itu punya hak untuk mengalirkan lahar. Sebelum ada banyak manusia, lahar sudah mengalir lebih dulu.Ini harus dipahami secara rasional.

Benarkah penampakan itu adalah simbol dari letusan merapi yang sangat besar ?

Baik awan, langit, udara, air dan semua yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah swt. Ketika berbentuk sesuatu sesungguhnya kehendak Allah semata, bahwa sebuah awan itu terjadi, kita semua menyadari bahwa di alam semesta ini bermilyar peristiwa yang terjadi, hal yang tidak masuk akal, adalah bermilyar peristiwa itu HANYA mampu di tangani oleh akal manusia sendiri.

Kejadian penampakan mbah petruk pada dimensi tertentu merupakan sebuah gambar awan yang oleh beberapa orang dapat dibaca sebagai sebuah warning, namun jika warning itu dikaitkan dengan mahluk halus (penunggu merapi) maka sesungguhnya kekuatan mahluk halus itu amat-lah lemah. Dia tidak bisa mencelakai manusia, karena tugas dia adalah menggoda manusia, sesuai janji dia ketika turun ke bumi.

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. . Surah (7) Al-A’raf ayat: 14

Maksudnya: janganlah saya dan anak cucu saya dimatikan sampai hari kiamat sehingga saya berkesempatan menggoda Adam dan anak cucunya.

Itulah kekuatan mahluk halus beserta anak cucunya, sehingga prespektif yang berbelok arah, ketika penampakan foto mbah petruk diatas adalah “menagih janji sehingga dia membuat bencana di merapi dan yogyakarta”.

Berkaca dari meninggalnya mbah marijan, tgl 26-oktober-2010, dimana saat itu beliau dan para pengikutnya tidak mengungsi, yang salah satunya menunggu wangsit dari mbah petruk, baca Mbah Marijan Meninggal, Posisi Sujud Atau Disujudkan ? maka sebuah kehendak Allah telah terjadi pada diri mbah marijan, dimana usia beliau sampai dia meninggal dunia adalah 83 tahun (lahir 1927 sampai 2010). Itulah sebuah makna dari 83 yang tiada lain sebuah 8+3=SEBELAS, sama persis dengan foto penampakan mbah petruk yang terjadi tgl 25-10-2010, dimana semua di satukan, terjadilah 2+5+1+0+2+0+1+0=SEBELAS juga.

Apakah makna kehendak Allah swt pada diri mbah marijan sebagai tetapan usia 83 tersebut dan penampakan foto bayangan ‘mbah petruk’ diatas ? secara septintas diulas bahwa kematian mbah marijan menunjukkan sebuah memori, baca Mbah Marijan Meninggal, Mengapa Tepat tgl 26-oktober-2010 ?.

Kehendak Allah swt diatas SEBELAS itulah sebagai sebuah peringatan bagi kita semua akan arti 11 itu sendiri, dimana tercatat sebuah firman Allah swt dari surat 11 ayat 1 sampai 4 :

Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci , yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya, dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. Kepada Allah-lah kembalimu, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Itulah makna kehendak Allah swt atas diri mbah marijan yang di tutup usia pada 83 yang ketika itu masih menunggu wangsit mbah petruk, padahal bayangan ‘mbah petruk’ sudah menampakkan diri sebelumnya,Kronologi Detik-detik Wedhus Gembel Sergap Rumah Mbah Maridjan …

Selain Mbah Marijan, dua orang lain yang terjebak dan tidak bisa dievakuasi adalah Mbah Poniman dan istrinya, tokoh masyarakat Desa Kepuhardjo. Seperti juga Mbak Marijan, Mbah Poniman juga enggan dievakuasi sejak dini karena menunggu wangsit dari Petruk.

Dengan demikian, baik bayangan mbah petruk dan meninggalnya mbah marijan, tiada lain sesungguhnya kehendak Allah swt atas peristiwa itu, hingga itulah, pesan yang cukup jelas bagi yang percaya kepada mbah petruk, “agar kamu tidak menyembah selain Allah.”


Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis komentar anda di sini.

Related Posts with Thumbnails

Loading