google-site-verification=4PyO_QSL777Du1Gc1Iq7U5VBurLSMNyd2lW4AvGTCdo The Girl From Sanghai. <a href='#' style='display:scroll;position:fixed;bottom:5px;right:5px;' title='Back to Top'><strong>Kembali ke Atas</strong></a>
Home » » The Girl From Sanghai.

The Girl From Sanghai.



Stasiun Lahore,telah jauh kutinggalkan. dalam rengkuh perut besi tua, aku terus di bawa berlari membelah malam. Gemerlap lampu kota perlahan menjauh dan hilang. Beberapa kerlip titik di depan melaju seperti berlarian ke arahku. Kereta yang kutumpangi rupanya sudah mulai memasuki area pedesaan yang entah aku sendiri tidak tahu di mana. Suasana dalam kereta mulai sepi, satu persatu para penumpang terkapar di hantam kantuk. Kulirik jam kristal putihku, jam 01.23, .. Aneh, padahal sudah selarut ini, tapi mataku tak bisa juga ku pejamkan. Mungkin karena terlalu banyak pikiran yang membebaniku. Pelan-pelan perasaan was was mulai menggangguku. Rasa percaya diri dan keberanian itu tiba tiba melorot dan berganti dengan rasa takut dan kekhawatiran yang amat sangat. " Ya Alloh, beri hamba kekuatan" demikian bibirku tak berhenti berdo'a. Dalam remang lampu kereta aku coba buka kembali selembar kertas yang ku bawa dari rumah. Pada selembar kertas itulah harapanku tergantung. Selembar kertas yang menunjukkan tentang alamat seseorang yang akan aku tuju sekarang.Rumah Pak Jose..

" Selamat siang, boleh aku duduk di sini?" tiba-tiba suara itu mengagetkan dan membuyarkan lamunan kosongku. Sejenak aku pandangi wajah aneh yang sekarang berada di sampingku. Tiba-tiba saja pikiranku melayang pada Kevin. Ya , kevin. ternyata wajah orang itu mengingatkan saya pada seseorang yang pernah aku benci dan aku maki habis-habisan, ketika dia dengan beraninya menulis perasaan cintanya kepadaku. Andai saja ketika itu, dia tidak mempublikasikannya kemana-mana, mungkin masih bisa aku maapkan, akan tetapi kurang ajar nya, dia malah mengumumkankannya ke semua kawan sekolahku. Aku emosi, marah luar biasa. lalu didepan teman-temanku, aku damprat dia habis-habisan. Rasa kesal dan benciku tidak bisa aku ibaratkan dengan apapun.. Tapi, mengapa tiba-tiba sekarang aku ingat Kevin? Oh...
"Anda kelihatannya lelah sekali, mau kemana mba'?" Katanya mencoba menyapaku. Suaranya terdengar parau dan sangat berat. sejenak aku ragu untuk menjawab. Untuk beberapa saat lamanya aku diam, kecuali senyum ku yang terpaksa, sekedar untuk tidak menyinggung perasaan hatinya. Aku teringat pada pesan ayahku,agar berhati-hati pada orang asing yang berpura-pura ramah.
"Mau ke Polona?" tanyanya kemudian.
"Oh, tidak, aku mau ke Rondeo"
"Rondeo? hm.. saya lihat anda turun dari arah Rondeo"
"Maksudnya? "
"Ya, kereta api yang anda tumpangi tadi, transit di terminal Rondeo juga"
"Jadi?" Bukan main aku kaget, ternyata terminal Rondeo yang ku tuju, telah jauh terlewat. mungkin ketka aku tertidur, sehingga aku tidak tahu jika kereta yang kutumpangi transit di sana. kalau begitu, sekarang aku dimana...
"Ini Toronto, mba'. anda bisa kembali lagi ke Rondeo, dengan kereta Bilkish, tapi harus menunggu jam 7 malam."
"jam 7 malam?" Tiba-tiba saja aku ingin menangis. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tidak paham arah kota yang akan aku tuju. lalu aku coba mencari lembaran kertas yang berisi alamat yang aku bawa dari rumah, sekedar untuk meyakinkan jika tujuan ku benar ke Polona. dan, Celaka! ternyata kertas itu pun hilang. Mungkin terjatuh waktu aku tertidur di kereta itu.
"Kenapa Mbak"
" ah tidak..e' een..alamat tujuanku hilang.."
"Oh,.. apakah mbak' mau balik lagi??
" Ya, tapi.. jam berapa ya, aku nanti sampai ke sana?"
"Jangan khawatir, aku juga mau ke Polona. kita bisa sama-sama"
Aku terkejut. aku tak bisa bicara apa apa lagi. Apakah ini sebuah pertolongan, atau justeru bencana buat saya..Apakah dia orang jahat yang memiliki maksud lain, atau..atau....ah.. (Bersambung..)

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis komentar anda di sini.

Related Posts with Thumbnails

Loading