google-site-verification=4PyO_QSL777Du1Gc1Iq7U5VBurLSMNyd2lW4AvGTCdo Kisah Sang Pengasuh Anak Kuntilanak ; ( true story ) <a href='#' style='display:scroll;position:fixed;bottom:5px;right:5px;' title='Back to Top'><strong>Kembali ke Atas</strong></a>
Home » » Kisah Sang Pengasuh Anak Kuntilanak ; ( true story )

Kisah Sang Pengasuh Anak Kuntilanak ; ( true story )

Gambar ini sekedar ilustrasi dan pemanis tampilan belaka.

"Astagfirullahal'adziim.." ucapan itulah yang keluar dari mulut saya setelah tersadar. tanpa saya ingat bagaimana awalnya, tiba-tiba kami (beberapa menit yang lalu) telah melakukan hubungan badan, layaknya suami istri di situ. Paha mulus sang ibu masih tersingkap, dalam gelap saya masih sempat melihat beberapa bagian terlarang, itu terbiar tanpa tertutup pakaian".





Ini sebuah kisah nyata, yang berhasil saya rekam dari seseorang yang mempunyai kisah unik. "Pengasuh Anak Kuntilanak" demikian saya tulis judul untuk kisah ini. sebuah kisah klasik misteri yang mungkin tidak bisa diterima oleh akal sehat, karena di luar nalar kemampuan pengindra manusia normal. Nama pelaku atau sang pemilik cerita, serta tempat kejadian sengaja saya samarkan sekedar untuk melindungi privasi si pelaku. Dan Jika nanti dalam paparan ini terdapat kesamaan; Nama, tempat atau mungkin alur yang agak mirip, barangkali itu hanya kebetulan saja. Baiklah saya mulai saja paparan ini, sesuai apa yang dituturkan si pemilik cerita:

Langit mendung dan hujan yang deras itulah yang menghalangi saya untuk pulang. Dalam guyuran hujan yang lebat, saya berlari-lari mencari tempat berteduh. Akhirnya saya temukan juga tempat di mana saya bisa berteduh untuk sementara. Sebuah tempat (sepertinya bekas warung ) yang memang sudah di tinggalkan oleh pemiliknya. Dalam waktu yang lama. Beberapa bagian dari warung tersebut nampak sudah rusak dan hancur. Bagian atap (genting ) yang tinggal separuh, menunjukkan jika warung tersebut memang tidak pernah di pakai lagi. Warung tersebut menghadap ke sebuah jalan setapak yang kecil, yang hanya cukup di lewati oleh pejalan kaki dan kendaraan roda dua saja. Dibagian kanan dan kiri, ada banyak tanaman pisang, serta pohon-pohonan yang cukup besar. Suasana sangat sepi ketika itu. Mungkin karena waktu menjelang sore, ditambah hujan deras yang menghalangi pejalan kaki atau kendaraan lainnya untuk lewat. Sejenak saya termangu memandangi pohon beringin besar yang berdiri tegak beberapa meter, di belakang warung. Seperti tersirap oleh sebuah kekuatan magis, mataku terus dan terus menatap rerimbun daun pohon beringin yang sekali-sekali bergoyang karena hempasan angin dan hantaman air hujan. Tiba-tiba saja rasa merinding dan takut, menjalari perasaanku. Tapi, Akh..Aku coba membuang jauh - jauh pikiran konyol tersebut. Saya coba menghibur diri dengan bernyanyi - nyanyi kecil dengan harapan saya bisa membuang jauh-jauh rasa ngeri dan takut tersebut. Samar- samar saya mendengar suara azan dari sebuah mushola yang sepertinya cukup jauh untuk di jangkau. Kebimbangan dan ragu mulai berkecamuk dalam bathin saya; antara pergi meninggalkan tempat tersebut atau tetap tinggal sampai hujan sedikit mereda. Namun sial, hujan bukannya mereda malah semakin besar dan deras saja. bahkan ditambah suara petir yang semakin menggedor - gedor jantung dan perasaan saya. Motor Honda 70 yang saya parkir di persis di samping warung, sepertinya sudah terlalu lama terguyur hujan, ini yang membuat saya semakin cemas. Sebab motor tersebut akan sulit di nyalakan jika terlalu lama terbiar kena air hujan. Dan rasa cemas itulah yang kemudian mengalahkan pikiranku, untuk segera cabut meninggalkan tempat dimana saya berteduh.

Saya mencoba untuk menjalankan motor, ketika tiba-tiba suara itu menyapa. "Mas, boleh saya menumpang pulang?". Deg. jantung ini seperti berhenti berdetak karena kaget. Seorang wanita baya, mungkin lima tahun lebih tua dari saya, ternyata sudah berdiri tepat di belakang saya. Dari penampilan serta dandanan yang dipakai, saya yakin kalau si wanita ini, bukan orang kampung yang biasa saya jumpai di sepanjang jalan petak ini. Wanita baya, mungkin lima tahun lebih tua dari saya. Kantong belanjaan dan tas kulit mahal yang di sandangnya itulah yang meyakinkan saya jika wanita tersebut minimah berasal dari golongan kelas menengah. Belum sempat saya menjawab iya dari permintaan si ibu (saya panggil dia dengan sapaan ibu) tersebut, tiba-tiba hujan dan angin semakin menggila. Pada akhirnya saya dan si ibu tadi terpaksa harus diam beberapa menit lagi, karena tidak mungkin pergi dalam hantaman hujan lebat dan angin yang meng hebat.

"Astagfirullahal'adziim.." ucapan itulah yang keluar dari mulut saya setelah tersadar. tanpa saya ingat bagaimana awalnya, tiba-tiba kami (beberapa menit yang lalu) telah melakukan hubungan badan, layaknya suami istri di situ. Paha mulus sang ibu masih tersingkap, dalam gelap saya masih sempat melihat beberapa bagian terlarang, itu terbiar tanpa tertutup pakaian".

Kami berhenti disebuah persimpangan.
"Terimakasih ya, mas atas tumpangannya, kapan - kapan mampir ke rumah, tidak jauh ko dari sini..2500 lagi naik angkot".
" Oh, iya, bu..nanti kalau saya sempat, saya mampir ke rumah"

Si ibu pergi, dan saya pun melanjutkan perjalanan pulang. Aneh, saya tidak bisa menepis bayangan erotis si ibu,tersebut. Tubuh putih mulus, padat dan berisi terus dan terus mengambang dalam pikiran saya selama perjalanan pulang. Beberapa bagian tubuh si ibu yang membangkitkan birahi, yang sempat terekam dalam ingatan sungguh tidak bisa saya singkirkan. Akh.. tiba-tiba saja libido ku datang dan memuncak.

Bahkan ketika saya sudah sampai di rumah, bayangan si ibu tersebut tetap dan selalu mengiang tanpa bisa saya buang. Padahal beberapa menit yang lalu, begitu saya sampai dirumah, langsung saya tuntaskan libido yang saya bawa selama perjalanan tadi, bersama istri. Bahkan selama saya melakukannya dengan istri, yang ada dalam pikiranku adalah si ibu tersebut. Duh, berdosa lah...

Sekarang tanggal 24 Juli 2010,
Tidak terasa peristiwa tersebut sudah hampir satu tahun berlalu. Seiring berjalannya waktu, peristiwa di warung sepi (demikian saya menyebutnya) perlahan pupus dan menghilang. Namun sebenarnya tidak begitu. Justru di sinilah awal dari tersingkapnya misteri dan segala kengerian yang saya jalani selama ini.
Malam itu terasa begitu dingin dan sepi. Walaupun sebenarnya waktu masih menunjukkan pukul sembilan. Seperti biasa saya mengerjakan pekerjaan kantor yang dibawa pulang sendirian di ruangan kecil tempat biasa saya berkutat dengan rutinitasku. Tepat pada saat jarum jam menunjuk ke angka 10.00, ketika tiba-tiba saya mendengar suara pintu di ketuk oleh seseorang. Segera saya beranjak dan membuka pintu, lalu..
"Suciati??" Deg!!!...dada seperti di hantam palu godam. Seperti tidak percaya dengan apa yang sedang saya lihat sekarang. Betapa tidak, orang yang mengetuk pintu rumahku tersebut, ternyata Ibu Suciati, seorang ibu paruh baya, yang pernah bersamaku di warung itu.
"Maap, saya tadi mencari-cari rumah Mas lama sekali,..boleh saya masuk?"
tanpa bisa berkata apa-apa, saya membiarkan dia masuk dan duduk. Seorang bayi kecil dalam gendongannya begitu tenang, sepertinya sedang tertidur pulas. Kami lalu terlibat pembicaraan yang serius untuk beberapa saat. Gusti..!! Kini aku baru tahu,jika bayi yang ada dalam dekapannya itu, ternyata anak ku, demikian menurut pengakuan Suciati. Berkali-kali saya menengok ke belakang, takut kalau-kalau suara obrolan kami di dengar oleh istri yang sedang tidur. Untuk beberapa saat lamanya, saya terdiam dan terdiam. Antara sadar dan tidak sadar, saya bisa melihat dengan jelas, tepat pada saat kami akan mengakhiri pembicaraan tersebut, tiba-tiba suciati berdiri tepat dihadapanku. Kemudian..kemudian dia membuka kancing bajunya satu-persatu, kemudian menurunkan rok yang dipakainya, dan ..dalam hitungan menit, ia sudah telanjang bulat di hadapanku..tanpa komando yang berarti, kami kemudian melakukan hubungan badan tersebut dengan posisi duduk dan berdiri, jongkok dan tengkurap, semuanya kami lakukan di ruang tamu, dimana kami berdua ngobrol. Hanya dalam hitungan menit pula, kami menyelesaikannya. Suciati masih terbaring lemas. Demikian juga saya. lalu, setelah tersadar, secepatnya saya kenakan kembali pakaian ku yang tercecer di lantai, demikia juga suciati.
" Mas, tadi ngobrol dengan siapa? sudah malam..tidur.." ..Brakk!! seperti dihantam palu untuk yang kedua kalinya, hatiku tercerai karena kaget. tiba-tiba saja wajah istriku muncul dari balik gorden yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang tengah rumahku. Namun yang membuat saya tidak mengerti, kenapa dia tidak melihat suciati yang masih terbaring di lantai, serta bayi kecil yang ada di sampingnya...???

Di sinilah kemudian akhirnya saya mengerti, jika saya telah berhubungan dengan mahluk halus, penunggu warung mati.

(tobe continued)









Subscribe with Bloglines

Related Posts by Categories



2 komentar:

Anonymous mengatakan...

Sambungane anak kuntilank e endi toh mas ms

Tukang sndal mengatakan...

Mase admind warng pojok,smbungane crita ank kuntil anak kok g ada wes tak cri ke mn2,ki piye toh kok setengah setengah,emoh aq nek ngono

Posting Komentar

Tulis komentar anda di sini.

Related Posts with Thumbnails

Loading